Home » Berita » Headline » Ekbis & Pelabuhan » Kecelakaan KM Santika Disebut Tanggungjawab Syahbandar

Kecelakaan KM Santika Disebut Tanggungjawab Syahbandar

SURABAYA, dobraknews – Peristiwa kecelakaan dan kebakaran kapal Ro-ro, (Roll on-Roll of) cenderung sering terjadi.  Dugaan kejadian itu karena truk  barang yang dimuat oleh kapal Ro-ro lolos dari monitor maupun pengawasan instansi berwenang di Pelabuhan. Ada beberapa faktor penyebab diantaranya keterbatasan alat monitoring.

Setiap ada kejadian kecelakaan kapal Ro-ro alat monitoring selalu diperbincangkan dan dielu-eluka agar diusulkan kepada Pemerinyah seperti melengkapi deteksi alat X-ray atau alat detector. Tetapi fakta yang terjadi semua hanya wacana sehingga pelabuhan sekelas Tanjung Perak tidak memiliki kelengkapan.Setiap musibah kecelakaan kebakaran Kapal Ro-ro,  sasaran pertama yang disoroti selalu asal muasal api, muatan barang truk, setelah ada pemeriksaan. Sementara hasil pemeriksaan  Kesyahbandaran, Otoritas Pelabuahan sampai ketingkat KNKT  tidak terekspos setelah ditingkat Mahakamah Pelayaran (Mahpel), sehingga selalama ini ada kesan tingkat pemeriksaan kecelakaan Kapal maupun kebakaran diduga abu-abu, dan tak satupun terkena sanksi baik ijin layar blcklist maupun tindak pidana yang sudah di atur dalam UU/17/2008.

Kejadian kecelakaan kebakaran kapal motor (KM) Santika Nusantara Empat hari lalu di perairan Tenggara pulau Masalembo yang menelan korban 3 (tiga) orang meninggal dan 308 (tiga ratus delapan) korban selamat sesuai data yang dilansir Basarnas menjadi perhatian banyak pihak.

Saat ini keluarga korban masih disedihkan linangan air mata, karena Penumpan yang terjebak dengan kecelakaan kebarkaran belum semuah dapat terevakuasi. Untuk sementara Update data korban KM Santika Nusantara yang sudah dievakuasi Tim SAR gabungan, hingga Minggu (25/8/2019) pukul 15.30 WIB :

1. Dievakuasi KM Dharma Fery 7 = 64 orang Selamat.
2. Dievakuasi KM Spill Citra = 23 orang Selamat.
3. Dievakuasi KN Cundamani ke Tg Perak = 53 orang Selamat & 3 orang MD.
4. Dievakuasi KM Putra Tunggal 8 ke Kalianget = 161 orang Selamat.
5. Dievakuasi KN SAR Laksmana dr Masalembu ke Surabaya = 5 orang Selamat.
6. Dievakuasi nelayan Lamongan ke pelabuhan Brondong = 2 orang, dg rincian :
a. Samuji (37) asal Blitar
b. Sigit (54) asal Kediri

Dalam kunjungannnya Anggota komisi V DPR-RI, Bambang Haryo Soekartono mengingatkan, terhadap kejadian kebarkaran kapal KM Santika Nusantara ini penangananannya sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga tidak tumpang tindih.

Bambang menambahkan kecelakaan itu murni menjadi tanggung jawab pihak kesyahbandaran untuk melakukan pengusutan terhadap faktor penyebabnya yang nantinya akan menjadi dasar Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sebenarnya apa yang telah terjadi penyidik pegawai negeri sipil.

“Penyidik PPNS lah yang harus menyelidiki karena kasus ini murni kecelakaan di laut yang menjadi tanggung jawab Mahkamah Pelayaran bukan unsur pidana, Jadi tidak serta merta persoalan ini dibawa ke Kepolisian,” katanya disela mengunjungi posko kecelakaan KM Santika Nusantara di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin (26/8/2019). Bambang menjelaskan, ada indikasi persoalan ini menjadi kasus pidana akibat meninggalnya 3 (tiga) orang korban kebakaran kapal tersebut. Padahal, menurutnya tiga orang yang meninggal merupakan korban dari sebuah kecelakaan kapal laut yang notabene ada aturan khusus yang mengatur terkait kejadian tersebut di dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran.

“Untuk kejadian ini, diatur dalam undang-undang khusus pelayaran . Tapi kalau nanti ditemukan ada unsur pidana tentu akan diserahkan kepada pihak Kepolisian,” tegas Bambang.

Bambang juga memberikan apresiasi kepada pihak pelayaran pemilik KM Santika Nusantara, dari kejadian itu, hampir seluruh alat keselamatan bekerja sesuai fungsinya yang dimanfaatkan para korban untuk upaya menyelamatkan diri, hal itu tampak pada saat KM Dharma Ferry VII menyelamatkan para korban dari lifepraft yang mengembang sempurna.

“Saya apresiasi tterhadap pelayaran karena telah memperhatikan alat keselamatan di kapal masih berfungsi sempurna,” ungkap Bambang.

Kata Bambang, stirilisasi penumpang kapal harus lebih ditingkatkan khususnya di seratus an lebih pelabuhan yang sudah berstandar Internasional yang sudah menjadalankan ISPS Code seperti salah satunya Tanjung Perak. Dengan begitu, muatan kapal yang dipicu menjadi penyebab kecelakaan kapal KM Santika Nusantara dapat diminimalisir, dan tidak akan berulang terus seperti yang selama ini berlangsung.

“Perlu lebih ditingkatkan terkait stirilisasi penumpang dan barang muatan seperti muatan truk yang hendak naik ke kapal,” anjurnya.

Kunjungannya Ke Posko SAR juga Bambang mengkritik, pemangkasan anggaran dan keterbatasan yang dimiliki Basarnas perlu lebih diperhatikan lagi sebagai upaya mempercepat respon setiap terjadi keadaan darurat khsusnya yang terjadi di tenggah laut sehingga perlu adanya sejenis pos pangkalan yang berada di posisi Masalembo agar bisa lebih reaktif dan cepat penanganananya, karena poaisi Maaalembo ditengah insonesia Timur dan di Belitung pos pangkalan mewakili bagian barat. (do/dd)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*