Connect with us

Ekbis

PT Pelindo III, Kinerja Positif di Tengah Pandemi

Sepanjang 2020

Published

on

Aktivitas truk pengangkut petikemas tengah melakukan kegiatan bongkar muat di Terminal Petikemas Surabaya
Aktivitas truk pengangkut petikemas tengah melakukan kegiatan bongkar muat di Terminal Petikemas Surabaya

SURABAYA, DOBRAKNEWS.COM – PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III mampu menorehkan keberhasilan meski di tengah pandemi covi-19. Perusahaan pelat merah tersebut mampu mencatat kinerja positif dalam aspek operasional kepelabuhanan selama tahun 2020.

Direktur Utama Pelindo III U Saefudin Noer mengatakan, salah satu kinerja yang berhasil melampaui target adalah arus peti kemas.

“Selama 2020 mencapai 5,08 juta TEUs atau 103 persen dari target” terang Saefudin Selasa, (08/02/2021)

Saefudin menambahkan, hal itu dipengaruhi peningkatan laju perdagangan ekspor-impor dan perdagangan domestik sejak Juli 2020 di sejumlah pelabuhan di bawah Pelindo III.

Hal ini, lanjut Saefudin menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tetap tumbuh selama pandemi.

“Kunjungan kapal pada 2020 tercapai sebesar 284 juta gross tonnage (GT) atau 98 persen. Artinya, kegiatan distribusi barang menggunakan jalur laut tetap bergeliat di tengah pandemi Covid-19,” paparnya

Dari sisi arus barang, kinerja operasional Pelindo III selama 2020 tercatat sebanyak 65 juta ton atau 95 persen dari target. Barang kemasan mencapai 117 persen dari target, yaitu 2,7 juta M3. Arus distribusi gas tercapai 11,5 juta MMBTU atau 102 persen dari target.

Pencapaian tersebut diraih dengan mengedepankan 5 prioritas Kementerian BUMN sebagai pedoman dalam berusaha untuk mencapai target tahun 2020.

Yakni, prioritas Nilai Ekonomi dan Sosial untuk Indonesia, Inovasi Model Bisnis, Kepemimpinan Teknologi, Peningkatan Investasi, dan Pengembangan Talenta.

“Prioritas Nilai Ekonomi dan Sosial untuk Indonesia kami berikan berupa sejumlah insentif dan kebijakan yang mengedepankan manfaat tanpa melihat sisi keuntungan bisnis. Misalkan memperpanjang masa penumpukan peti kemas eks impor dari semula 3 hari menjadi 7 hari.

Peti kemas ekspor dapat masuk ke terminal, 5 hari sebelum kedatangan kapal dari sebelumnya 3 hari sebelum kapal datang. Juga diskon tarif terminal handling charge (THC) sebesar 35 persen bagi peti kemas transhipment,” katanya.

Prioritas Inovasi Model Bisnis juga dilakukan oleh Pelindo III dengan penyediaan tempat pemeriksaan fisik terpadu untuk peti kemas internasional. Inovasi hasil kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Karantina Hewan maupun Karantina Tumbuhan ini membuat biaya operasional pelabuhan turun karena tidak perlu dilakukan pemeriksaan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Sementara itu, Kepemimpinan Teknologi dilakukan dalam bentuk penyediaan layanan kepelabuhanan yang terintegrasi dan berbasis teknologi informasi. Seluruh layanan Pelindo III tersedia dalam satu portal yang berisikan hampir semua layanan pelabuhan. Portal ini bisa diakses dari mana saja dan kapan saja oleh pengguna jasa.

“Penggunaan teknologi selain memudahkan pengguna jasa juga dapat meminimalkan kontak langsung sehingga mengurangi risiko tertular Covid-19 di masa pandemi ini,” lanjutnya.

Prioritas Peningkatan Investasi dilakukan dengan akselerasi proyek prioritas yang menjadi amanah pemerintah kepada Pelindo III, yakni Terminal Multipurpose Labuan Bajo, Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) dan Terminal Gilimas. Situasi pandemi dimanfaatkan oleh Pelindo III menggenjot pembangunan.

Terminal Multipurpose Labuan Bajo misalnya, sejak mulai dibangun awal Agustus 2020 perkembangan pembangunan pada tanggal, 8 Februari 2021 mencapai 92 persen.

Demikian halnya dengan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH), saat ini beberapa fasilitas sudah tersedia seperti terminal penumpang internasional (Bali Cruise Terminal), daily cruise, termasuk revitalisai alur pelayaran dan kolam pelabuhan dari minus 9 meter LWS menjadi minus 12 meter LWS.

Dalam hal Pengembangan Talenta dilakukan dengan meningkat kapasitas karyawan dengan serangkaian program pengembangan sesuai dengan bidang kerja dan keterampilan karwawan. “Mereka adalah penggerak dan penerus perusahaan, yang akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang,” tutup Saefudin.(JB/Hum)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Ekbis

Dukung Keselamatan Pelayaran, Pelindo III Gandeng Pushidrosal

Published

on

Jakarta | DOBRAKNEWS.COM – PT Pelindo III(Persero) terus berkomitmen untuk mendukung keselamatan pelayaran dan meningkatkan layanan lalu lintas kapal di pelabuhan, aksi ini tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilakukan antara Pelindo III dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) di Jakarta, pada Rabu (19/05).

Hal ini dilakukan perusahaan dibawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkecimpung di dunia bisnis kepelabuhanan upaya meningkatkan menekan biaya logistik nasional

Direktur Utama Pelindo III, Boy Robyanto , menjelaskan bahwa sebagai BUMN yang mengoperasikan pelabuhan di tujuh (7) Provinsi, Pelindo III telah melakukan berbagai upaya guna mendukung kelancaran arus logistik nasional melalui program revitalisasi pelabuhan dengan peningkatan fasilitas pokok maupun pendukung pelabuhan.

“Kerja sama ini dilakukan sebagai salah satu upaya peningkatan layanan kami, sehingga ke depan mampu meningkatkan kinerja korporasi untuk menekan biaya logistik nasional”, ujar Boy dalam keterangan resminya yang diterima dobraknews.com Jumat, (21/5)

Perjanjian kerja sama ini dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pelindo III, dan Komandan Pushidrosal, Laksamana Madya Dr. Agung Prasetiawan, M.A.P serta disaksikan langsung oleh Komisaris Utama Pelindo III, Laksamana TNI (Purn.) Prof. Dr. Marsetio, S.I.P., M.M. dengan ruang lingkup kerja sama yang meliputi pemetaan alur pelayaran dan kolam pelabuhan, serta kegiatan survei dan pemetaan di wilayah kerja Pelindo III sesuai dengan pengembangan perusahaan.

Kerja sama sinergis antara Pelindo III dan Pushidrosal ini merupakan langkah nyata dan wujud kebersamaan instansi pemerintah dalam melaksanakan pendalaman alur laut dan pembaharuan peta alur di lingkungan kerja Pelindo III, termasuk nantinya untuk mendukung proyek pengembangan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) yang telah diamanatkan oleh Kementerian BUMN.

“Ini adalah sinergi yang baik untuk berkontribusi bagi negara, kami percaya bahwa Pushidrosal memiliki kompetensi yang memadai, baik dari sisi peralatan maupun dari sisi teknologi pendukung”, pungkas Boy.

Dikesempatan yang sama, Komandan Pushidrosal Laksamana Madya Agung Prasetiawan menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman(MoU) yang sebelumnya telah terjalin antara Kementerian BUMN dan TNI pada 2018 lalu.

“Sebelumnya kami juga telah melaksanakan kerja sama dengan BUMN maupun Pelindo III, hubungan yang sinergis antara TNI AL dan Pelindo III adalah untuk mendukung keselamatan pelayaran dan pelayanan lalu lintas kapal di pelabuhan melalui update peta laut Indonesia dan publikasi nautika”, kata Agung.

Sementara itu, Komisaris Utama Pelindo III Laksamana TNI (Purn.) Marsetio, mendukung penuh atas kerja sama yang dilakukan, sehingga ke depan akan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Kami berharap kerjasama ini dapat membawa kemajuan bersama, dan kami akan mendukung penuh sesuai dengan kompetensi kami kepada para personil Pushidrosal”, katanya (Yusuf)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Continue Reading

Ekbis

Pelindo III Awali Layanan Pemeriksaan Ge-Nose C19

Deteksi Dini Penyebaran Covid-19

Published

on

Surabaya, Dobraknews.com – Mengantisipasi penyebaran Covid-19, sejumlah pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III mulai menyediakan layanan pemeriksaan cepat untuk deteksi dini Covid-19 dengan menggunakan alat Ge-Nose C19.

Tahap awal, pemeriksaan Ge-Nose C19 telah tersedia di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara Pelabuhan Tanjung Perak mulai Sabtu (17/4).

Selanjutnya, secara bertahap akan tersedia di Pelabuhan Tanjung Emas – Semarang dan Pelabuhan Banjarmasin dengan biaya pemeriksaan hanya Rp 30 ribu.

Peresmian Pemeriksaan Ge-Nose C19 di area pelabuhan milik Pelindo III ini ditandai dengan pemeriksaan Ge-Nose C19 perdana yang diikuti oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Agus H. Purnomo bersama Direktur Sumber Daya Manusia(SDM) Edi Priyanto dan Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Kelas Utama Tanjung Perak Arif Toha Tjahjagama di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Sabtu (17/04).

Usai melakukan pemeriksaan perdana Ge-Nose C19, Dirjen Hubla Agus H. Purnomo menyampaikan apresiasinya kepada Pelindo III beserta jajaran yang telah bergerak cepat menyediakan layanan Ge-Nose C19 untuk para calon penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak yang kemudian diikuti penyediaan di  2 pelabuhan lain yaitu Pelabuhan Tanjung Emas dan pelabuhan Banjarmasin.

Agus juga mengatakan tak hanya membantu pemerintah menekan penyebaran Covid-19, alat ini akan semakin meringankan beban biaya calon penumpang yang akan bepergian menggunakan kapal laut.

“Saya mengapresiasi Pelindo III yang telah menyediakan alat deteksi dini Covid-19 Ge-Nose C19, kita tau ini biayanya cukup terjangkau sehingga masyarakat tak lagi terbebani dengan biaya tambahan selama bepergian seperti rapid test dan lainnya. Saya berharap semua pelabuhan dan sarana angkutan laut bisa memiliki fasilitas ini semua,” tutur Agus.

Sementara, Direktur SDM Pelindo III Edi Priyanto mengatakan penyediaan layanan Ge-Nose C19 di sejumlah pelabuhan dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi para calon penumpang kapal laut untuk melakukan pemeriksaan deteksi COVID-19 yang merupakan syarat melakukan perjalanan.

Terlebih layanan Ge-Nose C19 di terminal milik Pelindo III memiliki harga yang lebih terjangkau bagi para calon penumpang kapal laut.

“Mulai hari ini layanan Ge-Nose C19 sudah tersedia di Pelabuhan Tanjung Perak dengan biaya pemeriksaan sebesar Rp 30.000,- untuk setiap orang sekali periksa. Metode ini paling terjangkau jika dibandingkan dengan metode pemeriksaan lainnya, harapan kami bisa mengurangi beban biaya para penumpang,” kata Edi mengutip sigap88.com

Untuk layanan Ge-Nose C19 di Pelabuhan Tanjung Perak dapat diakses setiap hari oleh para calon penumpang kapal laut mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

Para calon penumpang kapal cukup menunjukkan tiket kapal laut sebagai syarat untuk dapat melakukan pemeriksaan Ge-Nose C19.

“Sementara ini kami sediakan 2 unit alat dengan kapasitas pemeriksaan kurang lebih 200 orang per hari. Jika dirasa perlu maka tidak menutup kemungkinan jumlah alat akan ditambah,” katanya(Yusuf Basuki/Han)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Continue Reading

Ekbis

Menteri BUMN Tunjuk Boy Robyanto Jadi Dirut Pelindo III

Published

on

boy
Boy Robyanto

Surabaya, DOBRAKNEWS.COM – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan perombakan manajemen PT Pelabuhan Indonesia III atau Pelindo III (Persero), Senin, 15 Maret 2021.

Informasi yang diterima dobraknews.com, Kementerian BUMN mengangkat Boy Robyanto selaku Direktur Utama (Dirut), menggantikan jabatan yang sebelumnya ditempati oleh U. Saefudin Noor.

Boy bukan orang asing di BUMN, khususnya di PT Pelindo III (Persero). Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Direktur Teknik di perusahaan pelat merah operator pelabuhan tersebut.

Sebelumnya Boy tercatat pernah menjabat sebagai CEO Regional Kalimantan Pelindo III, SVP Port Facility Pelindo III serta GM Pelindo III Cabang Tenau/Kupang.

Selain itu, untuk mengisi kursi yang ditinggalkan Boy Robyanto, Kementerian BUMN mengangkat Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT Pelindo III (Persero), Kokok Susanto, sebagai Direktur Teknik PT Pelindo III (Persero).

Sementara jabatan yang ditinggalkan oleh Kokok Susanto, sekarang ditempati oleh Yon Irawan, yang sebelumnya menjabat Direktur Keuangan PT Pelindo II (Persero).(Yusuf Basuki)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Continue Reading

Ekbis

Potong Sapi di RPH Krian Tarifnya Lebih Murah, Higienis Dan Halal

Published

on

Sidoarjo, DOBRAKNEWS.com – Rumah Potong Hewan (RPH) Krian milik pemerintah kabupaten Sidoarjo sudah mulai beroperasi. Harganya pun sangat murah, harga satu Sapi dipatok Rp. 400.000.

Harga tersebut sudah termasuk pengepakan daging, kepala dan kulitnya. Selain harganya yang dijamin murah dari pasaran, pemkab Sidoarjo juga menjamin dagingnya higienis/bersih karena menggunakan sistem pemotongan modern.

Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) mengatakan bahwa prosesnya sesuai syari’at Islam, “sehingga ke halalannya dijamin”. Kamis (4/3/2021), saat meninjau langsung proses pemotongan sapi di RPH Krian.

Harga pemotongan sapi diluar harga paling rendah rata-rata Rp.700.000 – Rp. 800.000 per ekornya. Ada yang menentukan tarif perkilo mulai dari Rp.2000 – Rp. 3.500. sedangkan di RPH Krian sudah dipatok harga tetap Rp. 400.000,- tiap ekornya.

Dengan harga yang kompetitif ini usaha penjualan daging sapi diharapkan mengalami kenaikan. RPH Krian memiliki kapasitas bisa memotong 100 ekor sapi dalam sehari.

“Saya kira arah utaman RPH ini kenapa harus dimodernisasi karena kami ingin memastikan daging yang diterima dan beredar yang di Sidoarjo ini harus daging yang aman, nyaman, utuh dan yang terpenting halal,” ujar Gus Muhdlor.

Gus Muhdlor menjamin pemerintah hadir dan mengawal peredaran daging yang dijamin kehalalannya dan daging yang bersih serta aman dikonsumsi masyarakat.

“Semoga adanya RPH ini daging yang diterima masyarakat Sidoarjo, pertama bersih kemudian tidak ada penyakit-penyakit dan sebagainya, ini penting. Hampir seluruh masyarakat Sidoarjo ini adalah mayoritas Islam, pemerintah wajib memastikan bahwa daging yang beredar dijamin ke halalan nya”, katanya.

Jagal dibiarkan berjalan, karena Gus Muhdlor yakin masyarakat akan memilih jasa RPH karena dijamin kebersihannya, kehalalannya dan harganya murah.

“Dan yang terpenting hari ini kita meminimalisir adanya sapi-sapi gelonggongan itu, karena terkadang orang beli daging satu kilo tapi ternyata sebenarnya itu sapi gelonggogan akan lebih banyak kandungan airnya”, pungkasnya. (Hum/red)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Continue Reading

Ekbis

Bambang Haryo Soekartono Tantang Lakukan Audit Kapal Eksekutif

Ragukan ASDP

Published

on

Bambang-Haryo
Bambang Haryo. (foto: Dokumentasi pribadi Bambang Haryo)

SURABAYA,DOBRAKNEWS.COM – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) ditantang untuk melakukan uji coba dan audit semua kapal eksekutif di lintasan Merak-Bakauheni dengan melibatkan para pemangku kepentingan terkait. Pasalnya, Bambang Haryo Soekartono atau yang akrab disapa BHS memandang “ada perlakuan istimewa” dalam penempatan armada kapal-kapal milik BUMN itu berada di dermaga eksekutif.

BHS yang merupakan pemerhati dan praktisi transportasi laut, yang juga Ketua Dewan Pembina DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) dan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur mengatakan, uji coba dan audit kapal eksekutif itu guna memastikan apakah armada ASDP tersebut benar-benar laik dan memenuhi standar sehingga layak ditempatkan di dermaga 6 (eksekutif) dengan tarif lebih tinggi dari kapal ekonomi.

“Kita tantang ASDP untuk uji coba atau audit semua kapal eksekutif dengan melibatkan Kemenhub, Badan Klasifikasi Indonesia, Gapasdap, MTI, YLKI, dan unsur-unsur independen lain,” tegas BHS, mengulangi kembali seperti yang telah dinyatakan beberapa hari lalu, Senin (1/3/2021) melansir laman berita titikomapost.com

BHS menilai kapal-kapal ASDP sebenarnya tidak layak melayani dermaga eksekutif karena di bawah standar teknis yang seharusnya, baik dari sisi ukuran, kecepatan, maupun kenyamanan. Data menunjukkan ukuran kapal-kapal di dermaga eksekutif saat ini mayoritas panjang 110 meter, bahkan ada yang cuma 80-an meter, akibatnya karena kecilnya kapal sebagian kendaraan harus parkir di tempat terbuka sehingga kepanasan atau kehujanan, dan terkena air laut.

“Untuk menjamin kapasitas angkut, kapal di sana seharusnya panjang 130 meter ke atas atau sesuai ukuran kade dermaga yang disiapkan yakni 150-200 meter,” katanya

Dari sisi kecepatan, lanjut Bambang Haryo, kapal eksekutif harus mampu melaju di atas 15 knot. Kenyataannya, kapal-kapal yang diklaim eksekutif itu rata-rata jauh di bawah 15 knot sehingga waktu tempuh lintasan sejauh 15 mil itu melebihi standar 1 jam, bahkan ada yang mencapai 2 jam karena kecepatannya kurang dari 10 knot.

Dalam hal kenyamanan, tuturnya, fasilitas kapal eksekutif juga harus lengkap, misalnya tersedia lift atau eskalator, panggung musik, reclining seat, tempat tidur lesehan, dan fasilitas VIP lainnya.

“Kalau terminalnya dilengkapi eskalator atau lift, kapalnya juga harus ada dong. Di kapal ekonomi saja semua fasilitas itu tersedia, mengapa di kapal eksekutif tidak ada. Kapal-kapal eksekutif harusnya yang terbaik sebab publik membayar tiket lebih mahal,” ungkapnya.

Kapal Pemerintah

Bambang Haryo juga mempertanyakan mengapa kapal-kapal yang dibangun pemerintah dioperasikan oleh ASDP untuk mencari keuntungan komersial di dermaga eksekutif, yakni KMP Legundi, KMP Batu Mandi, dan KMP Sebuku.

“Seharusnya kapal-kapal yang dibangun menggunakan dana APBN itu ditempatkan di lintasan keperintisan atau di dermaga 5 Merak yang kurang diminati swasta. ASDP sebagai BUMN jangan mencari keuntungan saja, tetapi harus menjadi perintis kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh swasta. Ditjen Perhubungan Darat seharusnya segera memindahkan kapal-kapal itu dari dermaga eksekutif,” ujarnya.

Dia juga mendesak Ditjen Hubdat menarik dua kapal ASDP lain dari dermaga eksekutif karena dinilai kurang layak. Kapal-kapal itu yakni KMP Portlink III yang pernah rusak selama 1 tahun dan saat ini pun sudah tidak beroperasi 1 bulan karena rusak lagi, serta KMP Jatra III yang ukurannya kecil dengan panjang hanya 89 meter.

Berdasarkan data AIS (Automatic Identification System) di Ditjen Hubdat yang mengatur trafik kapal, ungkap Bambang Haryo, kecepatan KMP Jatra III dan KMP Portlink hanya sekitar 12 knot, bahkan kurang.

bakahunie

Tampak dermaga eksekutif Bakauheni. (Ist)

Anggota DPR RI periode 2014-2019 yang pernah menjadi anggota Badan Anggaran DPR RI ini menegaskan, masyarakat berhak mendapatkan pelayanan terbaik karena dermaga eksekutif dibangun menggunakan APBN dan Penyertaan Modal Negara (PMN).

Sayangnya, Bambang Haryo menilai pemanfaatan dermaga eksekutif selama ini tidak maksimal, terbukti dari jumlah penumpang yang masuk ke dalam terminal sangat sedikit sehingga banyak tenant tidak beroperasi alias tutup.

“Kalau terminal eksekutif eksisting saja tidak berfungsi maksimal, mengapa bangun lagi terminal eksekutif baru yang diperkirakan butuh investasi lebih dari Rp500 miliar itu. Ini jelas-jelas pemborosan anggaran,” katanya.

Menurut dia, biaya pembangunan terminal eksekutif itu terlalu mahal, sebab pengalamannya membangun mall 4 lantai—yang lebih besar dari terminal eksekutif, ditambah hotel internasional 10 lantai miliknya sendiri hanya menelan investasi kurang dari Rp300 miliar.

“Kita harap KPK hadir mengevaluasi proyek terminal eksekutif yang berpotensi mubazir dan merugikan negara itu,” tegasnya.

Dia yakin Presiden Jokowi akan marah besar jika mengetahui persoalan dermaga eksekutif ini.

“Presiden pasti mengharapkan masyarakat mendapat pelayanan terbaik dari pembangunan dermaga khusus itu, bukan untuk keuntungan ASDP semata,” ucap politisi sekaligus Dewan Pakar Partai Gerindra ini.

BHS mengharapkan Presiden memerintahkan Menteri Perhubungan segera mengoreksi dominasi ASDP dan penempatan kapal di bawah spek yang merugikan rakyat. Menurut dia, dominasi ASDP selama ini membuat BUMN itu terjerumus ke dalam praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Selain itu, BHS melihat, ada ketidaklaziman peran ASDP sebab selain menjadi fasilitor yakni pengelola pelabuhan, BUMN itu juga mengelola kapal, bahkan bertindak sebagai regulator karena mengatur izin dan jadwal kapal.

“Hal ini tidak kita temui di moda transportasi lain, dimana fungsi fasilitator, operator, dan regulator sudah dilakukan oleh lembaga atau korporasi terpisah. Misalnya di transportasi laut, operator kapalnya adalah Pelni, fasilitator pengelola pelabuhan Pelindo, dan regulatornya KSOP. Penguasaan ASDP itu mengakibatkan power-nya melebihi pemerintah,” pungkas BHS. (RG/red/tkp)

dobraknews.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Continue Reading

Trending

error: Konten dilindungi !!